Bagaimana Upaya Pencegahan Bunuh Diri Di Masyarakat?

Bagaimana Upaya Pencegahan Bunuh Diri Di Masyarakat?

Bagaimana Upaya Pencegahan Bunuh Diri Di Masyarakat?

Bunuh diri dapat dicegah dan semua anggota masyarakat dapat melakukan tindakan yang akan menyelamatkan kehidupan dan mencegah bunuh diri.

(Baca juga: Penyebab Dan Tanda Orang Akan Melakukan Bunuh Diri)

Sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara individu, keluarga, masyarakat, profesi dan pemerintah untuk bersama mengatasi masalahnya.

1. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh individu
  • Bila menemukan orang dengan ciri risiko tinggi bunuh diri:
  • Coba menjalin kontak dan mengenali pelaku tindakan bunuh diri beserta latar belakangnya.
  • Dengarkan dengan penuh perhatian dan biarkan pelaku tindakan bunuh diri berbicara mengenai perasaannya.
  • Coba mengenali masalah dan memahami perasaannya.
  • Hargai pemikirannya dan jangan menyalahkan keputusan mereka untuk bunuh diri.
  • Telusuri situasi yang dialami sekarang dan pengalaman serta keyakinannya pada masa lalu.
  • Telusuri pilihan alternatif yang positif yang mungkin dan dapat dilakukan sesuai dengan diri, nilai dan hal yang disenangi oleh orang tersebut.
  • Identifikasi cara terbaik yang dapat dilakukan untuk menolong mereka dalam situasi krisis.
  • Beri mereka harapan dan optimisme.
  • Bantu mereka mengurangi beban pikirannya.
  • Libatkan mereka dalam kegiatan sosial dan rekreasi seperti bertemu orang, berbicara kepada teman, mendengarkan radio, menonton televisi (bukan yang menayangkan tentang bunuh diri), menghadiri pertemuan sosial dan lain-lain.
  • Rujuk mereka kepada konselor atau tenaga kesehatan jiwa (psikiater, psikolog)
  • Ikuti saran dari dokter atau konselor, khususnya kepatuhan terhadap terapi.
  • Dampingi dan bantu mereka dengan segala cara yang mungkin dilakukan.
  • Teruskan berinteraksi, mendengarkan dan menawarkan dukungan.
Bila situasi krisis sudah berlalu, penting untuk tetap memberikan dukungan agar mereka mampu mengatasi tantangan hidup dengan cara yang positif. Jika pikiran bunuh diri tetap ada, diperlukan dukungan konselor dan profesional lain, jadi mereka perlu dirujuk ke tenaga yang tepat. Semua anggota masyarakat sebenarnya dapat bertindak sebagai konselor yang terbatas yaitu dengan cara berkomunikasi, berempati, memberi dukungan dan menunjukkan arahan yang positif bagi orang tersebut.

2. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh keluarga

Keluarga merupakan pusat dari semua kegiatan dalam kehidupan individu. Konflik interpersonal, hubungan yang terganggu dan kehidupan yang tidak harmonis merupakan faktor pencetus yang penting dalam tindakan bunuh diri. Keluarga perlu memberi dukungan dan melakukan upaya untuk mencegah bunuh diri. Anggota keluarga dapat melakukan upaya yang efektif dengan berbagai cara, antara lain:

Mengidentifikasi tanda-tanda dari stres dan kecenderungan bunuh diri. Karena ekspresinya sangat unik untuk setiap budaya, maka keluarga harus mengenali kecenderungan tersebut.
Membina hubungan yang erat dengan pelaku, penuh perhatian, mendengarkan, menghargai perasaan serta memahami emosinya.

Tunjukkan bahwa keluarga ingin menolongnya.

Lebih baik membangun potensi kekuatan pelaku dari pada terpaku pada kelemahannya.
Jangan tinggalkan seorang diri anggota keluarga yang mempunyai keinginan bunuh diri.
Menjauhkan pelaku dari benda yang membahayakan dirinya seperti: obat-obatan, racun, benda tajam, tali dan lain-lain.

Secara bertahap bangkitkan kembali keinginan untuk hidup (untuk beberapa situasi dapat terjadi dengan cepat).

Ajari dan praktekkan metode penyelesaian masalah dan timbulkan rasa optimis.

Mencoba untuk meminimalkan konflik di rumah dan mengembangkan latihan pemecahan masalah bersama dengan anggota keluarga yang lain.

Mendorong anggota keluarga tersebut untuk mencari pertolongan profesional, rumah sakit atau LSM (lihat lampiran) yang tepat. Mereka yang mempunyai masalah kesehatan jiwa tidak mau dilabel dengan ”gangguan jiwa”. Oleh karena itu persuasi merupakan faktor kunci untuk membawanya ke dokter. Konsultasi dengan dokter tidak cukup hanya satu kali. Untuk mendapatkan perubahan yang bermakna diperlukan konsultasi yang teratur dan perlu mengikuti saran yang diberikan oleh dokter.
Membantu anggota keluarga tersebut untuk mengatasi krisis dengan berbagai cara yang realistik dan cocok dengan yang bersangkutan.

Tetap mengobservasi dan mewaspadai tindakan, reaksi dan perilakunya.

Perhatian khusus diberikan pada usia lanjut, penyakit terminal, gangguan jiwa (depresi, alkoholisme, tindak kekerasan dan lain-lain) dan penderita cacat.

Identifikasi lembaga atau tokoh dalam masyarakat untuk membantu kasus spesifik (misalnya sekolah, lembaga tenaga kerja, lembaga sosial, institusi kesehatan, tokoh agama dan sesepuh atau tokoh masyarakat).

Dengan memberikan perhatian yang penuh kasih sayang, pengertian dan dukungan (selain dari memberi pengobatan yang diperlukan secara teratur), dapat mencegah terjadinya tindakan bunuh diri.

3. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat dan jaringan yang lebih luas

Masyarakat mempunyai tanggungjawab yang besar untuk mencegah tindakan bunuh diri. Masyarakat seharusnya menciptakan norma perilaku untuk membantu anggota masyarakat bertumbuh dengan cara yang positif, sehat dan merasa sejahtera. Jadi pengaruh positif dari masyarakat dapat mempengaruhi individu untuk berhenti dari perilaku merusak.

Problem besar pada masyarakat yang sedang dalam transisi adalah menurunnya sistem nilai secara bertahap, perubahan yang cepat yang diikuti oleh konflik yang disebabkan oleh adanya peluang baru dan frustrasi yang timbul akibat dari perubahan sosial masyarakat. Jadi setiap institusi dan individu di dalamnya dapat memainkan peranan yang amat penting untuk mencegah tindakan bunuh diri. Masyarakat perlu membangun mekanisme pertahanan sosial yang meliputi pencegahan, terapi dan pelayanan ”after care” untuk mengurangi tindakan bunuh diri.

Masyarakat, organisasi dan LSM mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan pelayanan pencegahan, pelayanan gawat darurat, pelayanan ”after care” dan program pencegahan. Mendata dukungan dari kelompok lokal merupakan langkah penting dalam membuat program dan mengidentifikasi sumberdaya yang ada.

Masyarakat dapat membantu program pencegahan bunuh diri dengan cara mengangkat isu lokal, masalah dan penyebab bunuh diri kepada pengambil keputusan (misalnya memperbaiki kualitas hidup masyarakat ekonomi lemah, mengurangi tindak kekerasan dan kriminalitas, menghilangkan stigma, menghilangkan sikap diskriminasi, mempengaruhi media massa lokal dan memperbaiki informasi data tentang bunuh diri).

4. Mewaspadai tempat risiko tinggi

Bunuh diri juga sering terjadi di beberapa tempat seperti rumah sakit, panti werda, lembaga pemasyarakatan, penginapan, mal dan lain-lain. Oleh karena itu perlu mengembangkan mekanisme pencegahan tindakan bunuh diri pada tempat-tempat tersebut dengan upaya khusus.

a. Perlu mengidentifikasi individu berisiko tinggi untuk bunuh diri pada tempat-tempat itu dan mengembangkan program intervensi yang ditujukan pada individu tersebut.

b. Staf pada tempat tersebut perlu dilatih untuk mengidentifikasi dan tetap mewaspadai mereka. Perlu dilakukan pelatihan periodik untuk mengatasi masalah dan melakukan metode pencegahan.

c. Perlu meningkatkan kepekaan petugas penerima tamu dan petugas lainnya untuk dapat mendeteksi adanya kemungkinan risiko tinggi bunuh diri pada calon dan penghuninya.

d. Dalam memberikan pertolongan perlu melibatkan tenaga kesehatan, psikolog, pengacara, polisi, pekerja sosial dan konselor.

e. Perlu kerjasama antara keluarga, sahabat, pemuka agama, staf rehabilitasi dan konselor profesional dalam memberikan intervensi.

f. Perlu menyediakan alat/materi untuk pertolongan pertama bila tiba-tiba terjadi usaha bunuh diri yang tak diduga sebelumnya.

g. Orang dengan risiko tinggi ditempatkan bersama dengan orang lain, bila tidak merupakan ancaman terhadap orang lain.

h. Tempatkan pada tempat yang aman dan singkirkan benda yang dapat digunakan untuk bunuh diri.

i. Tingkatkan pemeriksaan keamanan lingkungan khususnya pada penginapan dan hotel.

j. Perlu meningkatkan interaksi sosial yang sehat dan melibatkan mereka dalam kegiatan rekreasi (seperti menyanyi, olah raga, mendengar radio, menonton televisi, membaca), berdoa, meditasi.

5. Upaya yang dilakukan oleh media massa

Media massa (cetak dan elektronik) berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Walaupun media punya kebebasan untuk menayangkan berita, namun mereka harus menyadari akibat dari berita tersebut terhadap masyarakat.

Sejumlah novel, televisi, film, majalah dan surat kabar melaporkan peristiwa bunuh diri sebagai tindakan yang berani dan menjelaskan secara rinci cara bunuh diri yang dilakukan oleh individu atau kelompok. Data menunjukkan bahwa dengan penayangan demikian ternyata angka bunuh diri di masyarakat menjadi meningkat. Jadi media dapat berperan negatif atau positif dalam membentuk pemikiran dan perilaku masyarakat.

Media massa sebaiknya melakukan hal berikut:

Laporan tentang bunuh diri perlu menekankan bahwa setiap bunuh diri merupakan kerugian bagi masyarakat.

Hati-hati menayangkan ”celebrity suicide”, jangan dianggap sebagai tindakan pahlawan. Berikan publikasi yang minimal terhadap hal tersebut.

Hindari memberikan penjelasan yang rinci tentang cara dan tempat bunuh diri, karena masyarakat ingin tahu dan melihat tempat tersebut dan mungkin pula melakukannya dengan motif dan cara yang sama. Bila terdapat tempat dengan risiko tinggi, maka media perlu menekankan bagaimana cara membuatnya lebih aman.

Bunuh diri tidak terjadi karena faktor tunggal. Jangan menyalahkan korban, karena tindakan tersebut disebabkan oleh kombinasi berbagai penyebab. Tekankan bahwa gagal bercinta, tidak lulus ujian, tidak jadi ke luar negeri bukan merupakan penyebab bunuh diri. Masyarakat perlu diberi informasi bagaimana cara menghindari tindakan bunuh diri.

Pemberitaan bunuh diri di media massa merupakan beban yang memalukan bagi keluarga.
Beritakan tanda-tanda yang perlu diwaspadai yaitu bencana sosial, masalah ekonomi dan gangguan jiwa (khususnya depresi). Pada situasi tersebut perlu kerjasama yang erat dengan petugas kesehatan.
Berikan penjelasan dampak bunuh diri kepada individu yang selamat, pegawai dan keluarganya serta akibat terhadap individu baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Jelaskan tentang miskonsepsi, budaya, keyakinan dan mitos tentang bunuh diri. Menimbulkan kewaspadaan dan mengubah pemikiran masyarakat merupakan salah satu dari tanggung jawab media.
Media lokal dapat memberikan informasi tentang ”hotline service”, pusat pencegahan krisis, pusat pengobatan keracunan, atau LSM yang dapat memberikan bantuan kepada individu dan keluarganya.
Pemilihan kalimat seperti ”bunuh diri yang berhasil” atau ”bunuh diri yang lengkap” dapat mengubah persepsi masyarakat.
Media massa perlu bekerja sama yang erat dengan petugas kesehatan sebelum menayangkan berita.


Tanggung jawab utama media massa adalah mempersiapkan dan memberikan informasi kepada masyarakat bahwa bunuh diri dapat dicegah.

6. Upaya yang perlu segera dilakukan oleh sektor kesehatan

Bunuh diri bukan semata-mata merupakan fenomena sosial, budaya atau agama. Agar menjadi mitra kerja yang aktif dalam upaya pencegahan bunuh diri, sektor kesehatan perlu meluaskan peran dan tanggung jawabnya. Sektor kesehatan seharusnya memprakarsai untuk melakukan riset multi sektoral, karena dengan memahami masalah, faktor risiko dan metode yang dilakukan, merupakan isu kunci dalam intervensi dan pencegahan bunuh diri yang efektif.

Sektor kesehatan perlu melakukan:

Program pengembangan sumber daya untuk penanganan bunuh diri dengan cara meningkatkan pengetahuan, kemampuan, teknik dan strategi dalam memberikan pelayanan.
Memperbaiki fasilitas gawat darurat dan pelayanan segera terhadap pasien dengan percobaan bunuh diri dikombinasikan dengan pelayanan rujukan dan rehabilitasi.

Mengintegrasikan pelayanan kesehatan jiwa ke sistem pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas. Dengan melakukan identifikasi, penatalaksaan dan rujukan segera terhadap pasien (khususnya mereka yang menderita depresi, penyalahgunaan alkohol dan gangguan jiwa lainnya), bersamaan dengan meningkatkan sikap yang positif dari masyarakat, akan sangat menolong mengurangi angka bunuh diri.

Memberikan arahan kepada insan media massa dan sektor lain untuk mengembangkan kebijakan penyebarluasan informasi yang realistik agar terbentuk sikap yang positif pada masyarakat.
Mengembangkan program pencegahan bunuh diri lintas sektor yang terintegrasi dan terkoordinasi (sektor kesehatan, pendidikan, agama, pertanian, tenaga kerja, kepolisian, hukum dan lain-lain).
Mengembangkan pusat ”keracunan” yang dapat memberikan informasi dan saran kepada mereka yang keracunan.

Perilaku bunuh diri seringkali dilaporkan oleh keluarga dekat, tetangga, atau teman. Sarankan untuk segera mengubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. Perlu menyediakan ”hotline service” yang dapat dihubungi 24 jam.

7. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru

Akhir-akhir ini bunuh diri pada anak dan remaja semakin meningkat. Penyebab utama adalah kegagalan di sekolah, masalah tekanan dari orangtua, tuntutan prestasi sekolah terlalu tinggi, putus cinta dan konflik.

Perilaku merusak pada remaja seperti merokok, minum alkohol dan kegiatan seks bebas juga semakin meningkat. Sekolah dan perguruan tinggi berfungsi sebagai tempat membangun kehidupan individu dan dapat memainkan peranan penting dalam mencegah perilaku merusak diri tersebut. Membangun sistem nilai, menyiapkan aspirasi individu yang dapat diterima dan menanamkan mekanisme tujuan yang sesuai, merupakan hal yang penting dalam mencegah tindakan bunuh diri pada kelompok usia muda.

Beberapa hal yang dapat dilakukan guru:

Memberikan pendidikan keterampilan hidup yang dikombinasikan dengan pendekatan pemecahan masalah merupakan modal untuk menghadapi dan mengatasi kehidupan dengan cara yang realistik dan optimistik.

Periode transisi dari masa kanak ke remaja selalu merupakan fase yang bergejolak. Berbagai masalah perilaku seringkali ditemukan pada masa ini (afek yang tak stabil, impulsif, kesulitan dalam pertahanan diri, sedang mencari identitas diri, berfantasi, perilaku merusak, marah, anxietas, perasaan yang kompleks tentang diri sendiri dan orang lain serta ketertarikan pada sesama jenis). Perlu dibantu terbentuknya citra dan identitas diri yang mantap agar dapat mengatasi krisis masa peralihan ini dengan efektif.

Penganiayaan anak juga merupakan masalah yang seringkali timbul yang disebabkan oleh masalah di rumah atau di lingkungan. Anak tersebut sering menjadi korban dan mengalami trauma serta takut untuk berbagi masalahnya dengan orang lain, karena alasan keluarga dan budaya. Mereka membutuhkan dukungan dan bantuan untuk mengatasi stres mental mereka dan belajar mekanisme pertahanan diri.

Remaja tertentu memerlukan perhatian khusus di sekolah karena mereka mempunyai risiko tinggi untuk tindakan bunuh diri. Ciri anak tersebut adalah: kurang minat dalam bidang pelajaran dan sekolah, menurunnya prestasi akademis, sering tidak masuk sekolah, sering terlibat perilaku merusak, perokok berat, alkohol atau NAPZA lain, harga diri rendah, gangguan makan dan tidur serta meningkatnya derajat kecemasan.

Anak khususnya yang berasal dari lingkungan keluarga yang berantakan, orangtua tunggal, orangtua bercerai, konflik perkawinan, orangtua pengangguran dan keluarga besar dengan penghasilan rendah merupakan kelompok risiko tinggi untuk bunuh diri. Dalam hal ini guru perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengubah sikapnya agar mampu bertindak sebagai media untuk mengubah perilaku siswa (”agents of change”).

Guru perlu menjadi lebih adaptif secara sosial dan psikologis untuk mengubah realitas. Guru harus mengidentifikasi ”anak yang mengalami krisis” sejak dini dan guru perlu melakukan konseling atau merujuk mereka ke pelayanan yang sesuai.

Anak perlu dilengkapi dengan keterampilan sosial, membangun rasa percaya diri, saling berbagi situasi krisis dengan yang lain, mencari saran dan bahan pertimbangan untuk membuat pilihan dan terbuka untuk pengetahuan baru. Guru perlu menciptakan lingkungan yang sehat untuk interaksi yang positif diantara siswa dan guru.

Meningkatkan harga diri siswa dan membantu mereka mengatasi situasi stres dengan berbagi pengalaman hidup yang positif, mengurangi tekanan yang ditimbulkan oleh sekolah dan berkomunikasi dengan cara yang positif dengan anak-anak merupakan hal yang sangat diperlukan.
Menciptakan sekolah agar menjadi tempat yang sehat melalui pengembangan kegiatan sekolah yang lebih baik, membina hubungan interpersonal dan mencegah perilaku berbahaya akan meningkatkan interaksi yang lebih baik diantara siswa dan guru.

Mengupayakan program intervensi krisis untuk menyelesaikan konflik interpersonal, membantu anak-anak yang mengalami gangguan penggunaan NAPZA dan meningkatkan komunikasi yang saling mempercayai merupakan intervensi yang vital di institusi pendidikan.

Mengembangkan pelayanan konseling secara teratur dan segera merujuknya ke sarana yang tepat bila guru sendiri tidak mampu mengatasi masalah tersebut.

Membina komunikasi dan interaksi antara orangtua dan guru untuk membicarakan perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan, tidak hanya sekedar membicarakan pencapaian atau kegagalan akademik.

Mengidentifikasi anak dengan risiko tinggi dan melibatkan orangtua serta teman untuk mengatasi masalahnya, akan mengurangi risiko tindakan bunuh diri pada anak.

8. Upaya yang dapat dilakukan oleh pemuka agama dan pengobat tradisional

Tokoh agama dan pengobat tradisional mempunyai posisi yang unik di masyarakat karena pamor, posisi, kebijakan dan kemampuan mereka untuk mempengaruhi nilai-nilai dan keyakinan masyarakat. Sementara dimensi spiritual dan religi dari tindakan bunuh diri masih diperdebatkan, namun perlu disadari bahwa kehidupan manusia itu sangat berharga. Karena masyarakat mempunyai keyakinan, penghargaan dan kepercayaan yang besar terhadap tokoh agama, maka tokoh agama dan pengobat tradisional perlu menekankan kenyataan bahwa bunuh diri dapat dicegah dan individu dapat ditolong melalui konseling, pengobatan dan pemberian dukungan. Tokoh agama perlu menekankan akan pentingnya kehidupan dan makna kehidupan itu sendiri dengan meningkatkan nilai-nilai dan keyakinan yang positif tanpa bersikap menghakimi.

Pengobat tradisional perlu dilibatkan dalam kegiatan pencegahan bunuh diri di tingkat masyarakat karena mereka seringkali merupakan kontak pertama terhadap berbagai masalah kesehatan. Jika mereka dapat memainkan peran yang positif dalam mengenali perilaku dan pikiran bunuh diri, keadaan depresi serta dapat memberikan dukungan emosional kepada masyarakat, maka hal ini merupakan langkah yang amat penting. Beberapa cara penanganan yang biasa dilakukan adalah berdoa, meditasi, puasa dan lain-lain.

Walaupun belum ada penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi efektivitasnya dalam mengatasi masalah psikologis tertentu, namun cara tersebut telah diterima secara luas di masyarakat. Sangat penting untuk mengembangkan pengertian yang lebih baik tentang peran dari sistem ini digabungkan dengan metode yang positif, tidak berbahaya dan dapat diterima oleh masyarakat.

Keterlibatan tokoh agama dalam kegiatan pengambilan keputusan di masyarakat akan membantu meningkatkan solidaritas di masyarakat.(sumber)
Bagaimana Upaya Pencegahan Bunuh Diri Di Masyarakat? Bagaimana Upaya Pencegahan Bunuh Diri Di Masyarakat? Reviewed by jhoe wain on 2/18/2016 04:07:00 am Rating: 5
comments

No comments:

FOLLOWER

Powered by Blogger.