Hoax, Kecemasan Dari Dan Untuk Para Elit

Hoax, Kecemasan Dari Dan Untuk Para Elit

Hoax, Kecemasan Dari Dan Untuk Para Elit

Hoax adalah informasi tidak benar atau tidak nyata, dimana informasi tidak benar (hoax) ini dikemas dengan sangat baik hingga orang yang mendengar atau membaca informasi tersebut merasa bahwa kabar berita hoax tersebut benar adanya.

Asal kata 'hoax' diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya, yakni 'hocus' dari mantra 'hocus pocus'. Frasa yang kerap disebut oleh pesulap, serupa 'sim salabim'.

Alexander Boese dalam bukuny, Museum of Hoaxes, mencatat hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak atau penanggalan palsu yang dibuat Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift pada 1709.

Saat itu, ia meramalkan kematian astrolog John Partridge. Agar meyakinkan publik, ia bahkan membuat obituari palsu tentang Partridge pada hari yang diramal sebagai hari kematiannya.

Swift mengarang informasi tersebut untuk mempermalukan Partridge di mata publik. Partridge pun berhenti membuat almanak astrologi hingga enam tahun setelah hoax beredar.

Penyair aliran romantik Amerika Serikat, Edgar Allan Poe, pun diduga pernah membuat enam hoax sepanjang hidupnya, seperti informasi dari hoaxes.org yang dikelola Boese.

Poe, sekitar 1829-1831, menulis di koran lokal, Baltimore, akan ada orang yang meloncat dari Phoenix Shot Tower pada pagi hari 1 April. Orang itu ingin mencoba mesin terbang buatannya, dan akan melayang ke Lazaretto Point Lighthouse yang berjarak 2,5 mil.

Saat itu, Phoenix Shot Tower yang baru dibangun, merupakan bangunan tertinggi di AS. Berita orang terbang di gedung tertinggi itu menarik banyak peminat, hingga orang-orang berkumpul di bawah gedung untuk menyaksikannya.

Tapi, yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir. Kerumunan orang kesal dan bubar begitu menyadari hari itu 1 April. Poe lalu meminta maaf di koran sore, menyatakan orang itu tak bisa hadir karena salah satu sayapnya basah.

Jika melihat dari penjabaran asal muasal hoax diatas, tentunya kita bisa menarik kesimpulan bahwa hoax sebenarnya mempunya tujuan. Tujuan untuk popularitas atau untuk sekedar meluapkan dendam terhadap lawan.

Di Indonesia sendiri Hoax (berita bohong) ini berkembang dengan pesatnya. Berita hoax biasanya akan memenuhi media sosial Indonesia pada saat pemilihan presiden atau pemilihan kepala daerah.

Hoax menjadi salah satu topik yang dibicarakan media indonesia sejak polisi menangkap jaringan saracen pada tahun 2017.

Kelompok hoax bernuansa sara ini bekerja berdasarkan pesanan orang dengan tarif yang lumayan mahal. Lantas siapakah orang yang memesan konten atau informasi hoax ini..?Jawaban yang pastinya adalah orang yang memiliki uang tentunya.

Tertangkapnya sindikat hoax Indonesia ini tidak sepenuhnya menghilangkan informasi hoax yang beredar di media sosial.

Hal ini terbukti dengan masih banyaknya konten atau informasi hoax menyebar di media sosial anda. Pemerintah pun di buat "mati kutu" tak tahu harus berbuat apa, agar informasi-informasi hoax ini tidak terus dibuat dan disebarkan. Himbauan agar tidak mudah percaya kepada informasi yang tersebar dimedia sosialpun dianggap seperti angin yang berlalu.

Para pembuat hoax tentunya memainkan perananya dengan sangat kreatif, memanfaatkan media sosial mereka menarik simpati dan memulai propagandanya.

Pengguna media sosial yang lugu dan gaptek tentunya akan terperangkap didalamnya. Mereka enggan mengecek kembali kebenaran berita yang disampakan sang pembuat hoax.

Lagi pula sang pembuat konten hoax yakin bahwa targetnya tidak akan melangkah jauh kedepan (mencari kebenaran infomasi tersebut) mungkin karena keterbatasan waktu, atau mungkin karena tidak tahu harus bagaimana mencari kebenaran dari berita tersebut.

Parahnya, para target dengan sukarela membagikan konten atau informasi hoax tersebut.

Lantas siapakah dibalik dari informasi hoax ini............?

Untuk mengetahui siapa dibalik berita hoax tersebut tentunya dapat kita lihat dari jenis informasi hoax yang tersebar. Di Indonesia sendiri berita hoax yang menyebar pada umumnya menyerang Presiden Indonesia Joko Widodo.

Dan jika kita menelusuri akun-akun penyebar hoax ini maka kita akan mengetahui beberapa hal, yang pertama akunnya tidak nyata alias akun palsu. Isi akunya selalu mencela Jokowi dan membela lawan politik dari Jokowi.

Dari sini kita bisa kembali ke saracen, bekerja sesuai titipan dengan tarif yang lumayan mahal. Dari tarif yang lumayan mahal tersebut tentu saja orang yang memesan paket informasi hoax ini bukan dari kalangan jelata.

Adapun berita hoax ini bisa berasal dari pribadi, atas dasar ketidak sukaan pribadi tersebut terhadap pihak atau orang yang menjadi objek dari berita hoax yang disampaikan.

Biasanya orang (pribadi) yang membuat informasi hoax dengan menyerang presiden Joko Widodo adalah orang yang terjebak dalam informasi hoax yang dibangun oleh kelompok hoax yang terorganisir, dan biasanya orang ini minim membaca dan menggali informasi. Padahal seperti yang kita ketahui segala sesuatu yang dikerjakan pemerintah disampaikan ke media sosial di kementerian atau kelembagaan masing-masing.

Maka sebuah pertanyaan besar bagi kita kenapa informasi hoax ini masih terus berkembang. Apakah ini adalah politik yang membodohkan mata jelata.?atau politik yang hanya sekedar meruntuhkan pamor lawannya saja..?

Apapun alasannya tentu saja jelata kembali menjadi korban dari hoax ini.

# Hoax, Kecemasan Dari Dan Untuk Para Elit
Hoax, Kecemasan Dari Dan Untuk Para Elit Hoax, Kecemasan Dari Dan Untuk Para Elit Reviewed by jhoe wain on 2/06/2018 01:31:00 pm Rating: 5
comments

No comments:

FOLLOWER

Powered by Blogger.